Sabtu, 16 Oktober 2010

SEBUAH PILIHAN SADAR

Seiring waktu yang melaju, nafas kita akan terus berhembus, dan berhenti sampai batas hanya Allah saja yang tahu; meninggalkan dunia, menuju akhirat. Padanya ada amal yang mengiringi; yang mengikut alam fana atau yang menyambut alam baka. Putaran yang juga membagi pilihan aktifitas kita menjadi sukses dan gagal, juga beroleh laba atau menuai kerugian. Begitu selamanya, sebagai kemestian sunnatullah.
Lalu, sampai kapan kita akan mengerti bahwa nikmat kehidupan bukan sekedar makanan, pakaian, kesehatan, dan segala atribut dunia, yang karenanya kita sering menghamba kepadanya dan melupakan akhirat? Mengejar kenikmatan fisik dan melupakan ruhani yang menjerit kehausan karena gersang dalam kekeringan? Kilau pesona dunia yang menyilaukan, ataukah kebodohan kita yang menjadi penyebabnya.
Ketika itulah kita akan mengerti ada nikmat lain yang jauh lebih penting dan bermakna. Yaitu nikmat Iman dan Islam yang akan membawa kita berpegangan kepada syariat, berdzikir kepada Sang Pembuat segala dzat, hingga lezatnya rasa taat. Sebuah nikmat terbesar yang agung, sumber dari semua kebaikan dan kebenaran hakiki, yang menafikan kenikmatan selainnya hingga menjadi tak ada arti. Ia memberi sudut pandang baru tentang hidup, yang jernih dan menentramkan sebab ia mengakomodir kebutuhan akal, nurani, dan nafsu secara seimbang dan mengagumkan.
Dan sebab sejalan dengan fitrah kemanusiaan, ia adalah jawaban semua pertanyaan penting dan mendasar tentang tuntutan dan tuntunan hidup. Ia bukanlah jebakan fatamorgana dunia, yang memuaskan dahaga sesaat, untuk kemudian bertambah semakin haus dan merana, tersesat dalam tuntutan nikmat tak pernah terpuaskan, serta berputar-putar dalam pusaran syahwat yang membingungkan. Yang jika menghasilkan sesuatu, selalu tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan yang dituntut.
Maka, kerugian hakiki itu adalah membiarkan waktu berlalu tanpa mendekati Allah. Menyia-nyiakan usia dalam perburuan tak jelas, yang selalu gagal menjawab semua kata tanya. Berjalan ke depan namun menghindari Sang Rahman, sedang tidak ada lagi tempat kembali tersisa selain keharibaan-Nya. Akan sanggupkah kita jika, kelak, fakta ini tersibak tanpa mampu kita menolak? Kita harus tahu bahwa menentang Allah tidak akan pernah sama dengan menentang selain-Nya.
Allah akan membimbing kita dengan Iman dan Islam. Menjawab semua tanya dengan meyakinkan, hingga mampu menghapus semua keraguan dan kebingungan yang pernah membelenggu. Ia akan membuat hidup kita 'berbeda' karena dengannya kita akan memilih ilmu, amal shalih, sahabat, hingga adat-istiadat. hidup menjadi berarti dan, semoga tidak akan pernah kita sesali. Sebab kita sadar memilihnya. Bukankah seharusnya demikian adanya? (Trias-Ar-Risalah) 

Selasa, 12 Oktober 2010

Kata-Kata Bijak

Hati yang tulus adalah yang maju ketika yang lain mundur, yang teguh ketika yang lain tergelincir, yang lemah lembut ketika yang lain bertindak bodoh, yang memberi maaf ketika yang lain merampas haknya, karena hati yang tulus hanya mengharap keridhaan-Nya.

HAK MUSLIM TERHADAP MUSLIM YANG LAIN

Hak muslim terhadap muslim yang lain:
1. Ketika mengucapkan salam, maka jawablah salamnya.
2. Ketika dia meminta nasihat, maka nasihatilah.
3. Ketika dia bersin dan bertahmid, maka jaawablah tahmidnya.
4. Ketika dia mengundangmu, maka penuhi undangannya.
5. Ketika dia sakit, jenguklah.
6. Ketika meninggal, antarkan jenazahnya.