Saat suhu udara panas, badan berkeringat, dan rasa haus mulai menyerang tenggorokan, air menjadi penawar dahaga yang tepat. Sebagian orang memilih air minum biasa, namun banyak juga yang memilih minuman isotonik. Alasannya agar tubuh secepatnya mendapat ganti ion tubuh yang keluar melalui keringat.
Memang berbagai minuman isotonik menawarkan diri mereka melalui iklan sebagai minuman yang mampu mengganti ion-ion tubuh. Tak hanya itu, minuman isotonik dianggap dapat menambah konsentrasi, menjaga kelembaban kulit, hingga mengembalikan energi yang mulai menurun. Singkatnya, minuman isotonik lebih baik dari air minum biasa. Minum air biasa bahkan dianggap sebagai tindakan yang kurang sehat, karena air minum biasa tak memiliki kandungan mineral seperti minuman isotonik.
Benarkah demikian? Apa sebenarnya minuman isotonik?
Isotonik terdiri dari dua kata, yaitu iso (sama) dan tonik (tekanan). Jadi, minuman isotonik adalah minuman yang memiliki tekanan yang sama dengan cairan dalam sel tubuh. Kandungan dalam minuman isotonik adalah elektrolit (Na+, K+, Ca2+, Mg+, Cl) yang terlarut dalam bentuk garam dan gula untuk membantu mempercepat penyerapan elektrolit, dan sudah tentu kandungan yang terbanyak adalah air. Jadi minuman isotonik sebenarnya adalah air minum yang mengandung beberapa jenis ion dalam bentuk garam.
Dalam kondisi tubuh yang kekurangan cairan, minuman isotonik memang bermanfaat untuk mengganti cairan tubuh. Misalnya pada olahragawan, penderita diare, atau saat dehidrasi. Namun, dalam kondisi normal, minuman isotonik justru kurang bermanfaat. Kandungan ion di dalam minuman ini tak memberikan efek positif. Pasalnya, dalam keadaan normal atau segar bugar, tubuh tak membutuhkan zat-zat elektrolit tersebut. Akhirnya, kandungan mineral minuman jenis ini tak bermanfaaat.
Sekedar gambaran saja, minuman isotonik memiliki kandungan yang sama dengan cairan infus. Kita tahu, cairan infus digunakan dalam dunia medis sebagai asupan bagi pasien yang mengalami dehidrasi atau kesulitan mengonsumsi makanan dan minuman secara oral (melalui mulut).
Bagi penderita hipertensi, minuman isotonik malah kurang baik untuk dikonsumsi. Sebab, kelebihan asupan garam bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah pada penderita hipertensi. Sedangkan bagi penderita ginjal, mengonsumsi minuman isotonik bisa memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan mineral yang tak dibutuhkan tubuh. Ini bisa memperparah penyakit ginjal.
Jadi, minum air putih saja sebenarnya cukup. Kebutuhan ion-ion sebagai elektrolit tubuh bisa dicukupi dari garam yang digunakan dalam masakan sehari-hari. Dalam kondisi normal, tubuh orang dewasa hanya memerlukan 2,3 gram natrium per hari, sedangkan klorida hanya 500-100 mg. Pada anak-anak, kebutuhan dua zat itu lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa. Beberapa bahan makanan lain juga memiliki kandungan garam. Misalnya daging merah telur, daging ayam, kacang-kacangan, buah, dan sayur. (Noe,Ar-Risalah)